CERITA RUMAH > RUMAH BESI

Rumah Besi

Jika mendengar kata "Rumah Besi", hal apa yang ada di pikiran Anda? Rumah penuh besi, rumah dari besi, atau mungkin rumah perajin besi?

 

 


Berawal dari maksud menekan anggaran untuk membangun rumah, Bapak Martin dan Ibu Ruth sepakat membangun rumah di atas lahan kosong di daerah Tangerang Selatan. Untuk inspirasi desainnya yang unik, bukan terinspirasi dari internet atau buku, melainkan dari carport yang mereka lihat saat pulang dari tempat beraktivitas. Akhirnya terciptalah bangunan rumah besi sederhana, namun menyimpan banyak keunikan di dalamnya.

Sebelum memutuskan untuk menggunakan material besi, pasangan arsitek yang dikaruniai dua orang anak ini sempat memilah beberapa material yang bisa digunakan, seperti beton, kayu dan baja. Pilihan jatuh kepada material besi karena dinilai ringan dan biaya produksi yang lebih terjangkau. Saking ringannya, struktur rumah besi ini selesai hanya dalam waktu tiga hari saja!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak hanya material yang unik, konsep dan arsitektur rumah besi milik pasangan Bapak Martin dan Ibu Ruth ini juga unik. Pasangan arsitek ini sengaja memberikan bukaan pada setiap sisi rumah, agar sirkulasi udara lebih lancar. Dengan bukaan yang lebar ini, Ibu Ruth juga ingin membuat rumahnya tidak hanya menjadi area pribadi, tapi juga lebih hangat dan bisa menjadi tempat berbaur dengan masyarakat sekitar. Ya, seminggu sekali, Ibu Ruth mengundang anak-anak di sekitar rumahnya untuk datang dan membaca buku bersama.

Selain itu, untuk menghubungkan ruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga ini, Bapak Martin dan Ibu Ruth membuat tangga fleksibel yang bisa dipindahkan jika sudah tidak diperlukan, atau jika nanti akan digunakan untuk aktivitas lain.

Untuk menekan budget, Bapak Martin dan Ibu Ruth menggunakan kayu recycle dari toko perajin kayu bekas untuk pintu dan beberapa bagian di dalam rumah. Selain itu, pasangan ini juga sepakat hanya menggunakan cat natural untuk tembok rumah dan tidak memakai keramik. Tembok bagian dalam rumah juga sengaja tidak diaci, sehingga material batu bata terlihat jelas dan menimbulkan kesan artistik.



 

 

 

Tak berhenti pada ide unik menggunakan material besi dan desain raw untuk mempercantik rumah, Bapak Martin dan Ibu Ruth juga memanfaatkan halaman rumahnya dengan sebaik mungkin. Ya, halaman luas yang terinspirasi dari rumah adat Betawi ini tak hanya digunakan untuk bersantai, namun juga untuk mengelola sampah secara ramah lingkungan. Bagaimana bisa?

"Awalnya kami bingung kemana sampah-sampah ini harus dibuang, baik sampah dapur atau sampah plastik. Setelah berdiskusi dan mencoba mencari inspirasi, kami menemukan solusinya yaitu dengan membuat lubang biopori untuk sampah dapur. Sementara itu, sampah plastik kami sumbangkan ke pengrajin atau didaur ulang." Eksperimen pembuatan lubang biopori ini memakan waktu yang cukup lama, termasuk untuk menentukan jumlah lubangnya, namun hasilnya kini sudah dapat dinikmati bersama.



 

 

 

Pak Martin dan Ibu Ruth juga memisahkan lubang biopori untuk air dan juga lubang biopori untuk sampah. Sesuai namanya, lubang biopori air berguna untuk menampung air dan juga untuk mencegah air tergenang di taman belakang. Air yang masuk melalui lubang biopori akan tersimpan di bawah tanah, sehingga secara tidak langsung, rumah besi menampung banyak air yang akan mencegah penghuninya dari kekeringan.

Sedangkan lubang biopori untuk sampah digunakan untuk menanam sampah organik dapur. Sampah yang tertimbun di tanah ini nantinya akan menjadi kompos alami bagi tumbuhan yang ada di sekitar rumah Ibu Ruth. Untuk memudahkan pengambilan kompos, Bapak Martin membuat "sendok besar" di dalam lubang biopori, sehingga ketika kompos sudah panen, mereka dapat dengan mudah menariknya keluar menggunakan sendok ini.

 

 

 

Selain adanya lubang biopori yang bisa menampung air di dalam tanah, Bapak Martin dan Ibu Ruth juga punya 2 drum besar untuk menampung air hujan. Awalnya, karena menggunakan besi sebagai atap, terkadang hawa di ruangan atas sangatlah panas. Pasangan ini akhirnya memutuskan untuk menampung air hujan yang nantinya dialirkan lagi ke atap rumahnya, sehingga menjadi hujan buatan.

Hujan buatan ini sebetulnya juga tercipta dari hujan alami yang disaring di dalam pipa, sehingga partikel-partikel kecil seperti batu tidak ikut masuk ke dalam drum. Dari dalam drum, air dialirkan lagi ke atap rumah dan juga ke area taman belakang yang dipenuhi oleh tumbuhan. Hal ini menjadi sangat efektif dan efisien, karena Ibu Ruth hanya perlu membuka keran dan air dari dalam drum bisa langsung mengalir ke atap ataupun ke bagian belakang untuk menyiram tanaman.

Pemilik Rumah: Bapak Martin dan Ibu Ruth

Notes: Silakan menghubungi Holcim, bila ada info yang ingin diubah, dihapus atau ingin ditampilkan pada halaman cerita rumah ini.