CERITA RUMAH > MODERN-MINIMALIS

Modern-Minimalis

 

Menempati rumah yang sudah 23 tahun lamanya pasti memerlukan banyak perawatan ya? Sama seperti pasangan Susanto Wang dan Esther Isyarah Wigati yang telah menempati rumah mereka di Perumahan Puri Nirwana Estate sejak tahun 1994.

 

 

 

 

Sejak pertama kali menempati rumah tersebut, sudah banyak perubahan yang dilakukan oleh keduanya. “Kalau dari basic-nya sih sudah seperti ini bentuknya, tapi bagian belakang ada perubahan. Tadinya, rumah ini hanya sampai batas ruang tamu saja, bagian belakang tanah kosong,” ujar Susanto. Sampai saat ini, Susanto dan Esther telah dua kali merenovasi rumah. Renovasi pertama, keduanya menggunakan jasa developer dari daerah Bogor. Namun, pengerjaan renovasi pertama membuat mereka kecewa. Pengerjaan yang lama dan tidak sesuai, membuat mereka harus kembali memperpanjang waktu renovasi rumah.

 

 

 

 

 

 

 

Ketika ingin melakukan renovasi kedua kalinya, Susanto dan Esther mencari developer lain dan menemukan Solusi Rumah dari Holcim. Sebelumnya, Esther mendengar soal Solusi Rumah dari temannya yang sudah pernah menggunakan jasa Holcim. Melihat temannya puas dengan hasil kerja dari Solusi Rumah Holcim, Esther dan Susanto pun memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak. Keduanya pun bertemu dengan Zahir Satria Nugraha dari Gamma House.

Tanpa waktu lama, Zahir pun datang ke rumah Susanto dan Esther untuk membicarakan desain rumah serta membawa RAB buatannya. Diskusi berjalan lancar sampai kedua pihak menemukan desain dengan biaya yang tepat. Desain yang dibuat oleh Zahir pada akhirnya disempurnakan oleh Susanto dan Esther. Kendala pertama yang harus dikerjakan pada rumah adalah plafon rumah.

Susanto menjelaskan bahwa plafon rumah ini pada awalnya mengikuti kontur genteng pada atap rumah. Hal ini sangat menyulitkan penggantian lampu, karena harus menggunakan tangga yang tinggi atau bantuan orang. Pasangan ini sulit untuk mendapat bantuan, karena keempat anak mereka sudah tidak tinggal di rumah.

 

 

 

 

 

 

 

Zahir menjelaskan bahwa inspirasi desain rumah Susanto dan Esther adalah modern-minimalis dan artdeco. Artdeco sendiri adalah desain yang merepresentasikan modernisasi dunia. Zahir ingin mengarahkan desain rumah menjadi artdeco modern karena Susanto dan Esther memiliki banyak barang-barang yang terbuat dari kayu jati.


Kedua pihak selalu berdiskusi sebelum memutuskan sesuatu untuk pengerjaan rumah. Contohnya dalam pengerjaan akhir rumah, Esther memilih desain sesuai seleranya seperti bahan parket untuk tangga yang semula ingin Zahir bangun dengan keramik. Dalam renovasi rumah ini, bahan yang paling banyak digunakan adalah semen dan pasir untuk struktur dasar bangunan. Sementara untuk sentuhan akhir, bahan cat dan keramik mendominasi.

 

 

 

 

 

 

Untuk membuat bangunan yang tahan lama, spesifikasi awal adalah hal yang paling harus diperhatikan, demikian menurut Zahir. Karena itu, sebenarnya tidak ada yang bisa dilakukan oleh Susanto dan Esther dalam hal perawatan untuk meningkatkan kualitas ketahanan bangunan. "Ketika ada keretakan, kuncinya yang pertama ada di kualitas acian dan cat. Yang kedua, ketepatan campuran air dan semennya," jelas Zahir.

Kualitas cat dinding juga bisa memengaruhi. Kualitas cat dinding yang standar tidak bisa menutupi keretakan dalam waktu lama. Sementara, cat berkualitas baik dengan elastisitas tinggi bisa meregang dengan sendirinya sehingga menutupi keretakan pada acian. Inilah pentingnya bahan berkualitas untuk membuat bangunan yang kuat.

 

 

 

 

 

 

Pengerjaan rumah Susanto dan Esther membutuhkan waktu selama tujuh bulan sampai selesai total. Untuk biaya, ada penambahan sedikit dari rencana awal. Baik Zahir, maupun Susanto dan Esther sepakat bahwa dalam renovasi rumah, dibutuhkan dana cadangan paling tidak 20% dari anggaran untuk hal tidak terduga seperti penambahan kamar di lantai atas untuk cucu mereka yang sedang berkunjung. Setelah rumah selesai direnovasi, Esther membeli banyak furnitur, termasuk benda-benda kayu kegemarannya, untuk menyesuaikan desain rumah barunya.

Alasan Susanto dan Esther senang mengoleksi barang-barang yang terbuat dari kayu adalah nilai seninya dan bentuknya yang artistik. Keduanya telah mengoleksi barang kayu sejak kurang lebih 30 tahun lalu. Susanto juga mengaku hampir semua perabotan rumahnya terbuat dari kayu. Untuk pemeliharannya, keduanya tidak melakukan hal khusus. “Pemeliharaannya biasa saja seperti pembersihan secara manual. Untuk lemari, biasanya diberi kamper untuk anti lembap dan anti kutu di dalammya,” kata Susanto.

 

Pemilik Rumah: Susanto Wang dan Esther Isyarah Wigati

Notes: Silakan menghubungi Holcim, bila ada info yang ingin diubah, dihapus atau ingin ditampilkan pada halaman cerita rumah ini.