BANGUN>INSPIRASI

3 Ciri-ciri Arsitektur Rumah Tradisional Indonesia

Sudahkah Anda mengenal indahnya tradisi arsitektur nusantara?

Keanekaragaman suku bangsa di Indonesia melahirkan budaya yang beragam pula. Salah satu wujud budaya yang menjadi kebanggaan kita semua adalah rumah tradisional atau rumah adat. Rumah tradisional Indonesia memang banyak bentuknya, sesuai dengan banyaknya suku-suku di seantero Nusantara. Namun gaya arsitektur rumah tradisional Indonesia ternyata punya kemiripan dan ciri-ciri tertentu:

  1. Berfondasi tiang kayu

Jika Anda doyan traveling mengunjungi perkampungan lokal yang tersebar di Indonesia, seperti perkampungan Baduy dan perkampungan Batak Karo, tentu Anda akan kerap menjumpai hunian berbentuk rumah panggung. Rumah-rumah tradisional Indonesia biasa menjadikan tiang kayu sebagai pondasi utamanya. Ada kearifan lokal dibalik desain rumah panggung. Sebagai negara beriklim tropis, Indonesia punya potensi mengalami banjir ketika musim hujan datang dan ini menjadi salah satu alasan utama mengapa rumah panggung banyak ditemui di berbagai perkampungan adat di nusantara. Celah pada lantai rumah panggung pun difungsikan sebagai “ventilasi” ketika cuaca panas. Bagi kita yang tinggal di daerah perkotaan, apakah bisa mewujudkan rumah panggung? Tentu bisa. Jika hunian Anda memiliki halaman yang cukup luas, inspirasi rumah panggung bisa Anda terapkan saat membangun gazebo, meski tak perlu setinggi rumah adat Indonesia.

  1. Atap yang memanjang

Ciri rumah tradisional Indonesia berikutnya adalah memiliki bubungan atau puncak atap yang memanjang, seperti rumah suku Batak Karo, Minangkabau, dan rumah bangsawan suku Toraja. Dalam arsitektur rumah tradisional Indonesia, atap yang memanjang sering ditemukan sebagai unsur utama hunian. Atap yang memanjang artinya atap utama rumah cenderung “panjang” menjauhi dinding bangunan. Untuk hunian modern, Anda bisa mengaplikasikan atap  arsitektur rumah tradisional Indonesia dengan teritisan yang “memanjangkan” atap menggunakan atap tambahan sehingga atap tampak bertingkat. Fungsinya untuk membatasi paparan sinar matahari sekaligus menahan tampias hujan yang disertai angin pada bangunan, sesuai untuk rumah di negara beriklim tropis.   

 

  1. Material alam sebagai bahan bangunan

Material bangunan rumah adat tradisional nusantara hampir seluruhnya berasal dari alam, di antaranya kayu, bambu, ijuk, serta bermacam dedaunan dan serat tanaman. Bahan-bahan tersebut digunakan pada bangunan dengan teknik pengolahan dan pembangunan yang kaya tradisi dan kearifan lokal. Misalnya, hanya menggunakan paku atau teknik ikat untuk menyatukan aneka material bangunan yang ada. Anda masih bisa menerapkan material bangunan dari alam untuk hunian masa kini Anda. Contohnya, Anda bisa menjadikan pintu kayu ukir atau gebyok khas Jawa sebagai pintu utama hunian. Anda juga bisa membangun bale bengong atau gazebo beratap alang-alang khas Bali, atau memanfaatkan rak dan meja tamu berbahan kayu jati serta kursi berbahan rotan sebagai furnitur klasik di ruang tamu.

Artikel Terkait
Rak Buku untuk Mempercantik Tampilan
Thursday, 16.03.2017

Untuk mengatasi semakin terbatasnya ruang dalam rumah modern, kini sudah sangat banyak ditemukan furnitur yang sekaligus berfungsi sebagai dekorasi

Jendela Besar untuk Kamar Tidur Terang dan Sehat
Thursday, 16.03.2017

Jendela adalah salah satu sumber cahaya alami untuk membangun rumah yang sehat sekaligus hemat energi

Nyaman dengan Kamar Tidur ala Resor
Thursday, 16.03.2017

Musim hujan seperti ini membuat Anda rindu hangatnya matahari dan suasana nyaman di resor.

Rencanakan dengan Jurnal Rumah

Mewujudkan rumah impian Anda
dimulai dari sekarang. Dengan Jurnal Rumah, Anda dapat
merencanakan pembangunan rumah dengan mudah dan lebih terstruktur.

Mulai
Produk

Holcim hadir memberikan solusi lengkap untuk bahan bangunan, mulai dari semen, beton siap pakai, hingga produk agregat.

Cari Tahu